Tampilkan postingan dengan label Network. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Network. Tampilkan semua postingan

Cara Mensetting IP Alias di Debian

Tabel CIDR IP

Kebetulan ada tugas Perencanaan WAN di sekolah, jadi disuruh cari Tabel CIDR, bagi anak TKJ pasti mengerti tentang CIDR, Dibawah ini adalah tabel IP CIDR, 



CIDR LengthMask# Networks# Hosts
  /1128.0.0.0128 A    2,147,483,392  
  /2192.0.0.064 A    1,073,741,696  
  /3224.0.0.032 A    536,870,848  
  /4240.0.0.016 A    268,435,424  
  /5248.0.0.08 A    134,217,712  
  /6252.0.0.04 A  67,108,856  
  /7254.0.0.02 A  33,554,428  
  /8255.0.0.01 A    16,777,214  
  /9255.128.0.0128 B  8,388,352  
  /10255.192.0.064 B  4,194,176  
  /11255.224.0.032 B  2,097,088  
  /12255.240.0.016 B  1,048,544  
  /13255.248.0.08 B  524,272  
  /14255.252.0.04 B  262,136  
  /15255.254.0.02 B  131,068  
  /16255.255.0.01 B  65,024  
  /17255.255.128.0128 C  32,512  
  /18255.255.192.064 C    16,256  
  /19255.255.224.032 C    8,128  
  /20255.255.240.016 C    4,064  
  /21255.255.248.08 C    2,032  
  /22255.255.252.04 C    1,016  
  /23255.255.254.02 C    508  
  /24255.255.255.01 C    254  
  /25255.255.255.128  2 subnets  124  
  /26255.255.255.192  4 subnets  62  
  /27255.255.255.224  8 subnets  30  
  /28255.255.255.240  16 subnets  14  
  /29255.255.255.24832 subnets  6  
  /30255.255.255.25264 subnets  2  
  /31  255.255.255.254    none  none
  /32255.255.255.255  1/256 C1  

Terima kasih telah mengunjungi blog lukman,, dan jangan lupa komentarnya ya,, gak usah pakai akun Google... langsung koment aja....
okkk

7 Keuntungan Menggunakan Debian GNU/Linux


Mengapa kita menggunakan O/S Debian GNU/Linux?
Pertanyaan di atas sangat mendasar dan perlu untuk dijawab sebelum kita memutuskan untuk memilih “Operating System (O/S). Di tengah iklim penegakan HAKI dan intensifnya operasi software bajakan, maka bangsa Indonesia perlu mencari solusi sistem operasi yang free, legal, dan OpenSource. Penggunaan software OpenSource membuat kita lebih mandiri mengembangkan IT di Indonesia, dan perputaran uang akan lebih banyak ke orang Indonesia. Salah satu software Open Source yang telah dipaket lengkap adalah Debian GNU/Linux.

(Sayang sekali, pengirim artikel ini anonymous dan tidak menyebutkan sumbernya, Red.)
Kembali pada pertanyaan di atas, maka dapat saya berikan paling tidak ada 7 keuntungan, jika kita menggunakan O/S Debian GNU/Linux, yaitu :
1. Admin Friendly 
Admin yang dimaksudkan adalah System Administrator (SysAdmin), yaitu orang yang bertanggung jawab akan kestabilan dan keamanan komputer server. Seringkali seorang SysAdmin perlu melakukan Remote Administration, yang mana sangat boros resources jika harus dilakukan pada lingkungan GUI (X-Windows), maka pilihan terbaik adalah dilakukan pada lingkungan Console (Shell). Hampir semua O/S UNIX-Like (sistem operasi berbasiskan UNIX) seperti Linux, BSD, Minix, masih melestarikan kekuatan console ini. Beberapa contoh Control Panel yang fleksibel digunakan pada lingkungan GUI maupun console adalah YasT pada O/S SUSE Linux (berbasis Redhat) dan Adminmenu pada O/S Libranet Linux (berbasis Debian). Tentu saja pada Debian juga tetap mempertahankan kekuatan dari lingkungan console.
2. User Friendly 
Pada awalnya O/S Linux dikenal sebagai O/S Server,bukan O/S Desktop. Seiring dengan perkembangan pengguna Linux, maka semakin banyak O/S Linux yang lebih meningkatkan “Kenyamanan User” tanpa harus mengorbankan kinerja, kestabilan dan keamanannya. Sebagai contoh O/S Mandrake Linux (berbasis Redhat), atau O/S Xandros Linux (berbasis Debian),dll. Tentu saja pada O/S Debian Linux juga mengalami evolusi yang sama.
3. Hardware Friendly 
Seringkali feature canggih dari sebuah O/S harus dibayar mahal dengan dukungan hardware yang sangat mewah Padahal jika sebuah O/S dioptimalkan kinerjanya,bisa berjalan pada hardware yang mungkin tergolong lama. Sebagai contoh pada O/S Libranet Linux 2.8.1, hardware minimalnya adalah Processor Intel Pentium 100, 64 MB RAM, dan 4GB ruang kosong Harddisk. Sedangkan pada O/S Debian Linux 3.1, sebagai O/S Desktop dibutuhkan minimal Processor Intel Pentium 100, 64 MB RAM, dan 3GB ruang kosong Harddisk.
4. Architecture Independent 
Pada umumnya sistem operasi jalan pada 1 arsitektur processor saja. Sebagai contoh O/S Mac-OS berjalan pada processor motorola (Mac PC) saja, sedangkan O/S Redhat yang pada awalnya mendukung beberapa jenis processor, sekarang O/S Redhat mendukung processor Intel saja. Debian sejak awal dapat berjalan pada beberapa processor, sampai release terbaru Debian dapat berjalan pada 11 arsitektur processor, yaitu Intel i386/i486/i586, Alpha, ARM, Intel IA-64, Motorola 68k, MIPS, PA-RISC, PowerPC, Sparc (dan UltraSparc), IBM S/390 dan Hitachi SuperH.
5. Kernel Independent
Kernel adalah “nyawa” dari sebuah sistem operasi, karena didalamnya berisi “library” yang akan menerjemahkan instruksi dari software aplikasi agar dapat dimengerti oleh hardware. Pada umumnya O/S hanya dapat mendukung satu jenis kernel saja, misalnya O/S Redhat Linux mendukung kernel Linux, sedangkan pada O/S FreeBSD mendukung kernel BSD. Anehnya Debian mendukung beberapa jenis kernel. Pada saat Debian berjalan diatas kernel linux, kita menyebutnya O/S Debian GNU/Linux. Selain itu Debian dapat juga berjalan diatas kernel Hurd atau BSD, maka kita menyebutnya O/S Debian saja. Jadi Debian sejak awal sudah bersiap diri jika suatu saat kernel linux tidak “free” lagi, maka Debian dapat menggunakan kernel lain yang masih “free”.
6. Free Software
Seringkali orang menyalah artikan istilah “free” dengan gratis. Padahal arti sebenarnya lebih kearah “kebebasan” untuk melakukan modifikasi secara keseluruhan sebuah O/S, karena kita memiliki akses sepenuhnya terhadap “source code” O/S tersebut. Pada sistem operasi komersial para penggunanya tidak diijinkan untuk mengakses kedalam “source code” nya, dan hanya diijinkan untuk merubah konfigurasinya saja. Artinya kita akan sepenuhnya mengantungkan hidup kita pada dukungan dari vendor tersebut jika terjadi kesalahan (bug) pada sistem operasi kita. Itulah alasan mengapa NASA memilih Debian sebagai sistem operasi mereka. Pada O/S Redhat tidak semua applikasinya disertai source code, sebab didalamnya terdapat juga aplikasi Shareware dan Freeware Lain halnya dengan O/S Debian yang akan mengeluarkan software aplikasi dari CD Releasenya, jika tidak bersedia memberikan souce codenya. Ini pernah terjadi pada KDE yang merupakan produk software komersial, sehingga beberapa release Debian tidak menyertakan KDE didalamnya, dan menggantinya dengan software OpenSource yakni GNOME. Namun karena akhirnya KDE bersedia memberikan source codenya, maka hingga kini Debian memasukkan KDE kedalam CD releasenya. Jadi Debian satu-satunya O/S yang 100% free (free, legal dan OpenSource).
7. Free Security Update
Hampir semua O/S menyediakan patching pada situsnya untuk menutup celah keamanan (security hole) pada sistem operasinya. Namun mereka tidak menyediakan patching pada software applikasi yang di-install diatas sistem operasi tersebut(ini diserahkan kepada vendor software aplikasinya). Pada situs resmi Debian (http://security.debian.org) memberikan patching pada sistem operasinya & juga semua applikasi yang di-install diatas Debian (dengan syarat proses instalasi harus sesuai prosedur instalasi secara debian). Salah satu keunggulan Debian dibandingan Linux lainnya adalah ketatnya “audit security” di tiap package aplikasinya. Seringkali sebuah “package aplikasi harus antri selama berbulan-bulan (bahkan sampai 3 tahun) baru bisa masuk ke CD Release Debian, karena dianggap masih memiliki celah keamanan pada package aplikasinya. Apakah akan berhenti proses “audit security” ketika sebuah package sudah masuk ke CD Release Debian, tentu tidak! Setiap kali ditemukan celah keamanan pada suatu package aplikasi pada CD Release Debian, maka akan diumumkan pada situs resmi debian, dan biasanya akan bermunculan berbagai solusi dari komunitas pengguna Debian. Maka solusi terbaik akan dipilih dan dimasukkan pada situs resmi diatas. Jadi siapa saja pengguna Debian diseluruh dunia yang online di internet, dan melakukan update security (dengan 2 perintah ajaib debian, yakni apt-update dan apt-upgrade), maka sistem operasi dan seluruh aplikasi yang terinstall diatasnya akan secara otomatis di patching. Jadi semakin kita rajin melakukan update security, maka O/S kita semakin aman. Dan hebatnya lagi semua itu diperoleh dengan gratis !
Apakah hanya terbatas pada 7 keuntungan diatas ? Jawabannya tentu saja tidak, sebab tiap pengguna O/S Debian bisa memberikan berbagai alasan mereka mengapa menggunakan Debian sesuai dengan profesi dan bidang pekerjaannya.
=======================================================
Debian memiliki konsep Distro Release yang ketat & teruji
=======================================================
Pada awal lahirnya Debian, konsep “distribution” (distro) masih merupakan hal baru. Distro adalah pengorganisasian kernel (Hurd,BSD, atau Linux), dengan software GNU (misalkan gcc, vi, fetchmail,dll), ditambah software OpenSource (misalkan Apache, MySQL, dll), dan lingkungan Shell nya (misalkan bash, ksh, csh, X, dll), kedalam sebuah paket aplikasi, lengkap dengan mekanisme installasinya, sehingga menjadi satu “Operating System” yang lengkap.
Distro bersifat “terbuka” (open) dan “bebas” (free),artinya distro terbuka bagi siapa saja untuk ikut memberi kontribusinya sebagai software developer, dan para pemakai bebas menggunakan / memodifikasi distro tersebut sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Agar standar kualitas yang tinggi tetap terjaga, maka dibuat “kebijakan”(policies) dan prosedur untuk membuat “paket aplikasi” (package). Debian adalah satu-satunya distro bersifat “Micro Package”, artinya distro yang menggunakan informasi “ketergantungan” (dependency) antar “package”, agar O/S tetap konsisten ketika mengalami proses upgrade. Untuk itu perlu didukung dengan beberapa “software-tools” seperti APT,Aptitude, dll. Karena begitu “powerfull-nya”, APT ini diadopsi oleh banyak O/S komersial yang tidak berbasiskan Debian seperti O/S Linspire Linux (berbasis Redhat).
Keunikan Debian lainnya adalah aturan release Distro Debian.Sering pada saat Distro Linux megeluarkan release terbaru, maka versi yang lama akan obsolete sedangkan aplikasi terbaru akan sulit diakses oleh non-developers. Pada Debian justru sebaliknya, versi lama tetap bisa diakses, sedangkan versi terbaru bisa dengan mudah digunakan siapa saja. Debian menggunakan 3 tipe release (3-tier release system), dan versi dengan angka (growing number of obsolete versions).
Adapun 3-tier Release System pada Distro Debian adalah sbb :
1. Current Release (Stable-Release) 
Merupakan release terakhir yang dikeluarkan oleh Debian. Saat tulisan ini ditulis current releasenya adalah Debian 3.1 dengan code-name "sarge”.
2. Current Pre-Release (Testing-Release)
Merupakan calon stable releaseberikutnya yang akan terus-menerus dilakukan perubahan dan test sebelum menjadi versi release. Saat tulisan ini ditulis current pre-release nya adalah Debian 3.2 dengan code-name “etch”.
3. Unstable Release (CodeName Sid)
Merupakan versi release dimana berkumpulnya aplikasi-aplikasi terbaru untuk dilakukan ujicoba secara intensif, dan memang release ini tidak dianjurkan digunakan pada suatu “production – system”. Seringkali terjadi “broken-package” pada saat proses instalasi pada versi ini, sebab aplikasi memang pada tahap ujicoba. Pemberian nama (code-name) pada Debian menggunakan nama – nama karakter dalam film kartun Toy Story. Nama Sid adalah karakter anak kecil yang sangat destruktif yang tidak boleh keluar dari rumah. Dan memang pada release inilah tempat dimana para developer aplikasi yang sangat berpengalaman melakukan “testing dan “debugging pada aplikasi baru. Namun banyak juga user Debian yang mengambil aplikasi-aplikasi dari “Unstable Release, yang kemudian dijalankan untuk diuji. Kadang mereka mendapatkan bahwa aplikasi dalam release ini sangat handal, yang tidak mereka temukan pada O/S terkenal lainnya.
Ada tier khusus yang seharusnya tidak boleh disentuh oleh user biasa pada umumnya, yaitu “Experimental”. Disinilah para developer mengolah package yg masih secara intensif dalam proses pengembangan. Seringkali banyak package aplikasi mengalami kegalalan dalam proses instalasi dan dapat merusak data pada aplikasi yang telah terinstall. Ini tejadi terutama pada aplikasi yang mengalami perubahan drastis. Jadi package yang ada dalam release “Experimental” hanya khusus untuk user yang benar-benar mengerti apa yang dia kerjakan, dan user yang ingin membantu melakukan tes terhadap software terbaru yang masih belum sepenuhnya siap (the very latest bleeding-edge software).
Beberapa release debian adalah sebagai berikut :
[Version-CodeName-Date] [Purpose]
1.1 Buzz (17/06/1996) obsolete Stable release
1.2 Rex (12/12/1996) obsolete Stable release
1.3 Bo (05/06/1997) obsolete Stable release
2.0 Hamm (24/07/1998) obsolete Stable release
2.1 Slink (09/03/1999) obsolete Stable release
2.2 Potato (15/08/2000) obsolete Stable release
3.0 Woody (19/07/2002) obsolete Stable release
3.1 Sarge (06/06/2005) current Stable release
3.2 Etch current Testing pre-release
n/a Sid current Unstable development version
n/a Experimental dangerous pre-release packages
Pada saat debian woody release (7 set CD), jika kita membuat sebuah “master mirror akan membutuhkan ruang kosong harddisk 80GB dan meliputi sekitar 11.000 package software. Sedangkan saat debian sarge release (14 set CD), meliputi sekitar 15.400 package software & dikerjakan oleh 1.600 “Debian Developers. Hebatnya lagi semuanya bersifat terbuka source codenya dan gratis (open source and free).
======================================================
Debian memiliki teamwork yang teroganisir sangat baik
======================================================
Proyek Debian secara resmi dicetuskan oleh Ian Murdock pada tanggal 16 Agustus 1993. Debian sendiri mempunyai ejaan resmi yaitu “deb ee n”, nama ini berasal dari gabungan nama pencetus Debian yakni Ian Murdock dan istrinya Debra.
Pada awalnya pembuatan Proyek Debian mendapat sponsor dari proyek FSF GNU (Free Sofware Foundation GNU) selama 1 tahun (Nopember 1994 sampai dengan 1995). Proyek Debian memberikan penekanan pada kehati- hatian dan kesinambungan dalam pembuatan package. Proyek dimulai dari sekelompok kecil “Free Software Hackers” (tightly-knit group of Free Software hackers), lalu secara bertahap berkembang menjadi komunitas besar “user “ dan “developer.
Debian adalah contoh dalam skala besar apa yang disebut oleh Eric S. Raymond sbg “project software development dg “Style Bazaar. Proyek debian sepenuhnya terbuka bagi siapa saja, melibatkan berbagai jenis orang yang berbeda, tiap orang melakukannya karena dia merasa senang melakukankannya. Walau dalam kenyataannya Debian tidak mempunyai legalitas kelembagaan, tidak ada perusahaan Debian, tidak ada pemegang saham,dewan komisaris,dewan direktur, bahkan organisasi non-profit (Debian menggunakan organisasi “Software in The Public Interest” sebagai payung hukum), namun Debian sendiri tetap berjalan sebagai sebuah “Proyek Kerjasama dalam Skala Besar”.
Struktur keanggotaan dalam Proyek Debian bersifat sukarela dan demokratis. Adapun struktur keanggotaannya dapat dibagi menjadi 3 kelompok yaitu :

1. Debian Users. 

Adalah siapa saja yang menggunakan distribusi Debian, baik sebagai “System Administrator yang menggunakan berbagai jenis prosessor, ataupun user biasa yang menggunakan Debian di rumahnya. Termasuk didalamnya adalah siapa saja yg secara langsung memberikan kontribusi kepada project, misalkan mengirimkan “patches, bug report, dan membuat debian packages.
2. Debian Developers (DD).
Saat ini ada sekitar 1.600 DDs yang memiliki beberapa hak tambahan yaitu mereka dapat secara langsung meng-upload package software (karena merekalah yang membuat dan merawat package). User selain DD yang menginginkan package-nya masuk kedalam Distro Debian, harus mendapatkan sponsor dari DD, jika tidak mereka tidak akan dapat mengupload package software kedalam antrian. Seorang DD dapat juga memberikan pilihan (vote) pada saat penentuan policy atau pada saat pemilihan posisi-posisi khusus pada proyek Debian, dan mereka dapat juga mencalonkan diri mereka sendiri.
3. Debian developer yg memegang posisi khusus (Official Positions). 
Posisi khusus tsb antara lain adalah “Debian Project Leader (DPL), anggota “Technical Committee, “Release Manager pada setiap release dari O/S Debian, dan manager dari berbagai infrastruktur seperti “mirrors dan “build farm. Untuk mendapatkan penghargaan dari orang-orang yang terlibat dalam “Debian Project dan agar diakui menjadi “Debian Developer, yg perlu dilakukan adalah berikan kontribusi nyata ke “Debian Project. Jadi segeralah subscribe ke “Debian-Devel dan terlibat didalamnya.
Debian mengalami beberapa kali perubahan kepemimpinan sejak 1993. Adapun beberapa nama yang pernah menjadi Debian Project Leader (DPL) adalah sbb :
[Nama] [Periode-Kepemimpinan]
Ian Murdock Agustus 1993 – Maret 1996

Bruce Perens April 1996 – Desember 1997

Ian Jackson Januari 1998 – Desember 1998
Wichert Akkerman Januari 1999 – Maret 2001
Ben Collins April 2001 – April 2002
Bdale Garbee April 2002 – April 2003
Martin Michlmayr Maret 2003 – Maret 2005
Branden Robinson April 2005 – sekarang (saat tulisan ini dibuat)

Kira-kira kapan ya, banyak orang Indonesia yang jadi “Debian Developers, syukur-syukur jadi Debian Project Leader (DPL) ?
=================================================

Debian menjadi “mesin” bagi banyak O/S OpenSource

=================================================

Karena begitu populernya sistem operasi Debian akhir-akhir ini, juga akibat kekecewaan para pengguna O/S Redhat (sebab menjadi 100% produk komersial), maka banyak penggemar Linux dan penggemar produk OpenSource beralih ke O/S Debian GNU/Linux. Sayangnya Debian dikenal sebagai O/S dengan konsep “software development yg “kaku dan kolot”, dimana sangat pelit memasukkan software “OpenSource versi terbaru kedalam distronya, sebelum benar-benar teruji dari sisi keamanannya ataupun kestabilannya.
Maka banyak pihak membuat distro sendiri, namun tetap menggunakan “mesin” Debian, yg terkenal stabil & secure. Karena “social contract” dari debian mengharuskan debian “free, maka jika dikomersialkan harus menggunakan nama lain, dan harus berbeda pengemasan distronya. Beberapa contoh distro komersial berbasiskan debian adalah Libranet Linux, Xandros Linux, Mepis Linux, dll. Sedangkan contoh distro non-komersial berbasiskan debian adalah Knoppix Linux, Gnoppix Linux, Ubuntu Linux, Phlak Linux, INSERT Linux, Progeny Linux, dll.

Cara Membuat Router dengan Linux Debian 6.0 (Original Posted)

Baiklah teman blogger, Kebetulan sekarang sedang belajar Administrasi Server, Jadi ilmu ni sangat berguna bagi teman yang belajar ADM Server. Ya Lukman sekarang akan sharing tentang Debian yaitu, Cara membuat Router dengan Linux Debian 6.0, Dibawah ini lukman akan jelaskan langkah-langkah membuat Router Dengan Linux Debian 6.0, Langsung saja ke TKJ eh salah, maksudnya ke TKP.
Langkah Langkahnya:
1. Kita harus mempunyai 2 buah Ethernet Lan Card yang digunakan untuk menghubungkan dari Internet Ke router dan Dari Client Ke Router,

2. Setelah kita selesai menginstalkan DEBIAN 6.0 selanjutnya kita login ke Debian dengan Root, kita masukkan Username dan passwordnya
 3.  Apabila sudah berhasil masuk akan tampil seperti gambar dibawah ini
 4. Kemudian ketikkan perintah #nano /etc/network/interfaces seperti gambar dibawah ini, lalu ENTER
 5. Maka akan muncul jendela seperti gambar dibawah ini
 6. Kemudian tambahkan satu lagi ethernet yaitu eth1 dengan mengetikkan perintah seperti dibawah ini
 7. Kemudian tekan CTRL + X kemudian pilih Yes untuk menyimpan hasil settingan, Lalu ketikan perintah dibawah untuk merestart jaringan lalu tekan ENTER
Rounded Rectangular Callout: Hasil ping apabila terkoneksiRounded Rectangular Callout: Ping ke eth08.  Maka jaringan akan otomatis merestart, selanjutnya kita lakukan test ping ke eth0 dan ke eth1 dengan mengetikkan perintah dibawah ini
 9.  Apabila sudah terkoneksi langkah selanjutnya adalah dengan mengetikkan perintah berikut, lalu tekan ENTER.
 10.  Maka akan tampil seperti tampilan dibawah ini
 11.  Kemudian pada perintah berikut hilangkan tanda “#” yg dintujukkan oleh panah hijau, akan menjadi net.ipv4.ip_forward=1
 12. Kemudian tekan CTRL + X kemudian pilih Yes untuk menyimpan hasil settingan, kemudian ketikkan perintah #nano /etc/rc.local seperti form dibawah ini, kemudian ENTER
 13. Maka akan keluar hasil seperti form dibawah ini
 14. Kemudian tambahkan perintah dibawah ini tepat dibawah # By default this script does nothing,
 15. Kemudian tekan CTRL + X kemudian pilih Yes untuk menyimpan hasil settingan, kemudian ketikkan perintah dibawah ini untuk merestart system. Kemudian tekan ENTER, maka system akan merestart sendir
 16. Sekarang coba kita lakukan PINGING ke eth0 dan ke eth1
Ping ke ETH0
 17. Ping ke ETH1
18.  Itu menandakan kita sudah berhasil membuat sebuah router pada Linux DEBIAN 6.0.

---===SELESAI===---

Dibuat  oleh Lukmanul Hakim
Teknik Komputer dan Jaringan
Jika Gambarnya Kurang Jelas, Teman klik saja gambar tersebut maka akan lebih jelas, terima kasih.
Jangan lupa Coment nya ya, terima kasih telah mengunjungi Lukman SCom Site, Moga Bermanfaat

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN FIBER OPTIK

 
Sistem transmisi fiber optic – sebuah pengirim dan penerima optikal, yang dihubungkan oleh kabel fiber optic – menawarkan banyak keuntungan yang tidak ditawarkan oleh kabel tembaga tradisional atau kabel coaxial. Berikut beberapa keuntungan fiber optic :

Berkemampuan membawa lebih banyak informasi dan mengantarkan informasi dengan lebih akurat dibandingkan dengan kabel tembaga dan kabel coaxial.
Kabel fiber optic mendukung data rate yang lebih besar, jarak yang lebih jauh dibandingkan kabel coaxial, sehingga menjadikannya ideal untuk transmisi serial data digital.
Kebal terhadap segala jenis interferensi, termasuk kilat, dan tidak bersifat mengantarkan listrik. Sehingga tidak berpengaruh terhadap tegangan listrik, tidak seperti kabel tembaga yang bisa lossing data karena pengaruh tegangan listrik.
Sebagai dasarnya seratnya dibuat dari kaca, tidak dipengaruhi oleh korosi dan tidak berpengaruh pada zat kimia, sehingga tidak tidak akan rusak kecuali kimia pada konsentrasi tertentu.
Karena yang dikirim adalah signal cahaya, maka tidak ada kemungkinan ada percikan api bila serat atau kabel tersebut putus. Selain itu juga tidak menyebabkan tegangan listrik dalam proses perbaikannya bila ada kerusakan.
Kabel fiber optic tidak terpengaruh oleh cuaca.
Kabel fiber optic walaupun memiliki banyak serat pada satu kabel namun bila dibandingkan terhadap kabel coaxial dan kabel tembaga akan lebih kecil dan lebih bercahaya bila diisi dengan muatan informasi yang sama. Lebih mudah dalam penanganan dan pemasangannya.
Kabel fiber optic lebih aman digunakan dalam sistem komunikasi, sebab lebih susah disadap namun mudah di-monitor. Bila ada gangguan pada kabel – ada yang menyadap sistem – maka muatan informasi yang dikirim akan jauh berkurang sehingga bisa cepat diketahui dan bisa cepat ditangani.
Di samping semua keuntungan yang ditawarkan namun Fiber Optic juga memiliki kelemahan, berikut adalah kelemahan Fiber Optic :

Biaya yang mahal untuk peralatannya.
Perlu konversi data listrik ke Cahaya dan sebaliknya yang rumit.
Perlu peralatan khusus dalam prosedur pemakaian dan pemasangannya.
Untuk perbaikan yang kompleks perlu tenaga yang ahli di bidang ini.
Selain merupakan keuntungan, sifatnya yang tidak menghantarkan listrik juga merupakan kelemahannya, karena musti memerlukan alat pembangkit listrik eksternal.
Bisa menyerap hidrogen yang bisa menyebabkan loss data.


WIRELESS
Kelebihan dari Wireless :

1· Mobilitas dan Produktivitas Tinggi, Wireless memungkinkan client untuk mengakses informasi secara realtime sepanjang masih dalam jangkauan WLAN, sehingga meningkatkan kualitas layanan dan produktivitas. Pengguna bisa melakukan kerja dimanapun ia berada asal dilokasi tsb masuk dalam coverage area Wireless.

2· Kemudahan dan kecepatan instalasi, karena infrastrukturnya tidak memerlukan kabel maka instalasi sangat mudah dan cepat dilaksanakan, tanpa perlu menarik atau memasang kabel pada dinding atau lantai.

3· Fleksibel, dengan teknologi Wireless sangat memungkinkan untuk membangun jaringan pada area yang tidak mungkin atau sulit dijangkau oleh kabel, misalnya dikota-kota besar, ditempat yang tidak tersedia insfrastruktur kabel.

4· Menurunkan biaya kepemilikan, dengan satu access point sudah bisa mencakup seluruh area dan biaya pemeliharaannya murah (hanya mencakup stasiun sel bukan seperti pada jaringan kabel yang mencakup keseluruhan kabel)

Kelemahan dari Wireless

1· Biaya peralatan mahal (kelemahan ini dapat dihilangkan dengan mengembangkan dan memproduksi teknologi komponen elektronika sehingga dapat menekan biaya jaringan),

2· Delay yang besar, adanya masalah propagasi radio seperti terhalang, terpantul dan banyak sumber interferensi (kelemahan ini dapat diatasi dengan teknik modulasi, teknik antena diversity, teknik spread spectrum dll),

3· Kapasitas jaringan menghadapi keterbatasan spektrum (pita frekuensi tidak dapat diperlebar tetapi dapat dimanfaatkan dengan efisien dengan bantuan bermacam-macam teknik seperti spread spectrum/DS-CDMA) dan keamanan data (kerahasiaan) kurang terjamin (kelemahan ini dapat diatasi misalnya dengan teknik spread spectrum).


Klick Here!

 
Design by Lukman SCom Site | Bloggerized by Lukmanul Hakim - Teknik Komputer dan Jaringan | Welcome To my blog